Teori Teori Geopolitik

            Ketika berbicara mengenai geopolitik, ada dua konsiderasi yang tidak bisa dipisahkan, yakni aspek spasial dan dimensi politik. Dengan kata lain, premis dasar geopolitik adalah bahwasanya geografi merupakan discourse dari aspek sosial dan sejarah yang akan selalu berhubungan dengan masalah-masalah politik dan ideologi. Geografi adalah kekuatan (power) dan pengetahuan itu sendiri, sebuah fenomena yang tak bisa ditentang yang terpisah dari aspek ideologi dan politik. Dalam tradisi geopolitik, istilah tersebut dipahami berdasarkan aspek historis, sehingga tiap scholar berbeda sudut pandang dalam mendefinisikan term geopolitik. Seperti contohnya R. Kjellen yang mengartikan geopolitik sebagai teori yang melihat negara sebagai kesatuan politik yang menyeluruh serta sebagai satuan biologis yang memiliki intelektualitas. Definisi ini tidak berbeda jauh dengan Housofer kemukakan, yakni melihat geopolitik sebagai ilmu pengetahuan mengenai kenegaraan, yangmana geopolitik berisi pertautan antara dua dimensi, yakni determinan spasial yang menentukan proses perpolitikan suatu negara. Pandangan lebih luas mengenai geopolitik datang dari Geoffrey yang menyatakan geopolitik merupakan suatu studi hubungan internasional dari perspektif geografis. Pandangan inipun dipertegas Agnew yang mendefinisikan geopolitik sebagai suatu obyek studi yang mensinergiskan bagaimana asumsi, desain, dan pemahaman geografis menjadi determinan politik dunia. (Cohen, 2003: 11-12) Dari beberapa pandangan scholar diatas dapat diasumsikan bahwasanya studi geopolitik merupakan satu studi yang kompleks; ia merupakan sintesis antara setting geografi dan proses politik yang keduanya saling meng-influence dan memberikan dinamikanya sendiri sesuai konteks waktu.

            Dari abstraksi mengenai term geopolitik diatas, kita dapat melihat bahwasanya definisi geopolitik berkembang dari tiap waktu ke waktu. Mengenai hal ini, Saul Bernard Cohen (2003) membagi perkembangan geopolitik modern kedalam 5 tahap. Tahap yang pertama adalah tahap the race for imperial hegemony. Pada tahap ini, scholar yang berpengaruh antara lain Ratzel, Mackiner, Kjellen, Bowman, dan Mahan, yang mana tulisan-tulisan mereka sangat hirau akan permasalahan nasionalisme, ekspansi negara, dan pembangunan imperium (Cohen, 2003: 12). Geopolitik pada masa itu  cenderung digunakan sebagai suatu ilmu tentang bagaimana negara-negara besar atau great powers menaklukkan negara lain atau suatu ilmu untuk menjelaskan fenomena imperialisme. Pada tahap ini, titik tekannya adalah pada perspektif nasional yang ter-influence oleh mahzab sosial Darwinisme. Tokoh yang pertama adalah Ratzel. Frederick Ratzel merupakan orang pertama yang mengintegrasikan aspek spasial (‘raum’) dan tata lokasi (‘lage’) kedalam studi kenegaraan. Titik tekan dari Mahzab Ratzel adalah negara di metaforakan sebagai organisme yang membutuhkan ruang untuk hidup. (Cohen, 2003: 13). Dengan kata lain, Ratzel memandang faktor geografis merupakan indikator tumbuh dan berkembangnya kekuatan negara. Negara meupakan organik state yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan seperti halnya makhluk hidup yang tergantung dari faktor-faktor geografis. Karena setiap makhluk hidup membutuhkan ruang hidup untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu faktor alam bukan hanya berpengaruh tapi juga memberikan peranan penting dalam menentukan the state and the political power. Postulat Ratzel inilah yang kemudian dimanipulasi oleh Karl Haushofer untuk policy advice  kepada Adolf Hitler. Sehingga, Hitler seolah-olah memperoleh “justifikasi” atas penjajahannya di negara lain.

            Lebih lanjut tokoh kedua dari tahap yang pertama dari geopolitik ini adalah Mackinder. Harold Mackinder adalah seorang ahli geografi dari Inggris yang menulis paper pada tahun 1904 “The Geographical Pivot of History.” Dalam papernya Mackinder mengatakan bahwa menguasai Eastern Europe adalah perkara yang penting untuk menguasai dunia. Dia memformulasikan hipothesisnya:  “Who rules East Europe commands the Heartland. Who rules the Heartland commands the World-Island. Who rules the World-Island commands the world” (Cohen, 2003: 13). Dalam hal ini yang dimaksud Pivot Area (Heartland) adalah posisi strategis karena berada di atas perbatasan banyak negara, daerah ini mencakup seluruh daratan Eurasia. Heartland juga meliputi daratan “lowland“ yang membentuk pintu masuk dari Serbia menuju Eropa yang sangat sesuai untuk mobilisasi land power. Kemudian yang dimaksud dengan the World-Island adalah seluruh daerah Eurasia yakni Eropa dan Asia. Oleh karena itu Mackinder melihat geografi sebagai sarana vital untuk mencapai statecraft dan strategi. Postulat Mackinder inipun kemudian dipakai oleh generasi berikutnya sebagai cornerstone kebijakan laur negeri serta turut menginspirasi Geopolitik Jerman pada Perang Dunia 1 dan 2 dan dipakai juga sebagai landasan strategi containment policy AS. (Cohen, 2003: 19).

            Kemudian tokoh berikutnya adalah Mahan. Admiral Alfred T. Mahan adalag seorang ahli dalam bidang geostrategi kelautan. Ia menyebutkan bahwa kekuatan laut (sea power) merupakan kunci utama bagi suatu negara memenangkan pertarungan politik.  Mahan sampai pada kesimpulan bahwa siapapun yang menguasai laut akan memenangkan pergumulan meraih supremasi. (Cohen, 2003: 19) Namun dalam hal ini Mahan tidak menyebut kekuatan laut murni, tetapi menyebut “Sea Transported Power”, dalam pandangan ini penguasaan gabungan terhadap pangkalan di daratan (baik dari darat atau udara) menjadi penting bagi penguasaan gabungan lautan. Kemudian tokoh yang berikutnya adalah Bowman. Isaiah Bowman adalah seorang pemimpin geografi politik AS. Dalam perspektifnya, ia melihat hubungan atau relasi antar negara sebagai suatu perjuangan yang terus menerus berevolusi. (Cohen, 2003: 20). Ia juga melihat bahwasanya tidak ada grand teori mengenai geopolitik, seperti teori pivot area Mackinder, tetapi yang ada hanyalah suatu prekripsi atau bahan rujukan atas fenomena empiris.

            Tahap yang kedua adalah tahap Geopolitik Jerman. Pada tahap ini ada satu tokoh yang berpengaruh, yakni Hausofer. Perspektif Hausofer ini melanjutkan pandangan Ratzel dan Kjellen terutama pandangan tentang lebensraum (ruang hidup) dan paham ekspansionisme. (Cohen, 2003: 21). Postulat Hausofer mengatakan “jika jumlah penduduk suatu wilayah suatu negara semakin banyak sehingga tidak sebanding lagi dengan luas wilayah, maka negara tersebut harus berupaya memperluas wilayahnya sebagai ruang hidup bagi warga negara”. Dan untuk mencapai maksud tersebut negara harus melakukan autarki dan membentuk pan-regional. (Cohen, 2003: 21).

            Kemudian tahap yang ketiga adalah tahap Geopolitik di AS. Tokoh yang berpengaruh saat itu adalah Spykman. Nicolas J. Spijkman terkenal dengan teori Daerah Batas. Dalam teorinya, ia membagi dunia dalam 4 wilayah / area mencakup: 1. Rimland, mencakup wilayah daerah jantung, 2. Offshore continent land, mencakup wilayah pantai benua Eropa-Asia, 3. Ocenian Belt, mencakup wilayah pulau di luar Eropa-Asia, Afrika Selatan, dan 4. New World, mencakup wilayah Amerika. Ia juga melihat keseimbangan kekuasaan di Eurasia secara langsung dapat mempengaruhi keamanan Amerika Serikat. Kemudian tokoh lain yang ikut berpengaruh dalam tahap ini adalah Seversky. Dalam hal ini Seversky sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran Giulio Douhet. Menurut Douhet, penguasaan terhadap wilayah udara merupakan aspek penting bagi perlindungan baik di wilayah darat dan lautan. Penguasaan terhadap udara dapat mencakup juga terhadap pengawasan darat dan laut. Jadi di dalam sebuah peperangan, penguasaan wilayah udara menjadi mutlak bagi tiap negara. Karena walaupun seberapa kuat penguasaan wilayah darat oleh sebuah negara, jika udara tidak dapat ditaklukan, maka kemungkinan kecil untuk memenangkan sebuah peperangan. (Cohen, 2003: 23-24)

            Berikutnya adalah tahap keempat, yakni geopolitik era Perang Dingin. Dalam periode ini terdapat dua perseteruan konsiderasi yakni antara state-centered geopolitics dan geopolitik universalistik. Geopolitik state-sentris ini masih berpijak pada pemahaman geografi dipakai sebagai instrumen strategis sebagai pranata kebijakan politik, seperti contohnya strategi containment, teori domino, balance of power, dsb. (Cohen, 2003: 24). Titik tekan dari geopolitik state-sentris ini adalah aksioma yang mengatakan bahwasanya ada keterhubungan antara dimensi spasial dari suatu domain geografis suatu negara beserta dinamikanya berpengaruh terhadap kompleksitas sistem global. (Cohen, 2003: 26). Konsiderasi berikutnya adalah geopolitik universalistik. Terdapat 3 pendekatan dalam geopolitik ini, yakni a) pendekatan polisentris (power poltik), b) pendekatan unitary (ekonomi sebagai sistem dunia), dan c) pendekatan environmental dan sosial yang menggerakan geopolitik (Cohen, 2003: 26-27)

            Dan yang terakhir adalah tahap kelima, yakni era post cold war. Dalam tahap ini menjelaskan pada dasarnya tidak ada negara yang mau perang secara terbuka. Transformasi bentuk perang saat ini lebih pada penyebaran pengaruh dan paham-paham.  Untuk menguasai suatu bangsa lain tidak perlu sekiranya melakukan penjajahan atau ekspansi, tapi cukup dengan pemikiran terbuka dan terus mereformasi untuk menekan negara tersebut. Salah satu tokoh dari tahap ini adalah Francis Fukuyama. Ia mengemukakan tentang “the end of history” yang merupakan runtuhnya tapal batas negara dengan munculnya “regionalisme”

            Sebagai akhir review, penulis berkesimpulan bahwasanya apapun bentuk pemahaman geopolitik, geopolitik tetap menjadi instrument strategis dalam membuat pranata kebijakan politik. Karena betapapun dimensi spasial tetap menjadi aset vital, nilai prestise, serta bargaining position sebagai daya dukung untuk mempertahankan eksistensi suatu negara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: